...oh tuhan, oh tuhanku...


 

 

Lingkaran Aku Cinta PadaMu

bocahlangit

bocahlangit

18/08/08

sudah merdekakah kita?

Tepat pukul 24.01 WIB atau pukul 00.01 WIB, tanggal 17 Agustus 2008, HP saya berbunyi dengan nada yang sudah saya atur sebagai pertanda masuknya SMS. Di monitor, tertera nama seorang anggota DPRD Kota Batam dari Partai Amanat Nasional (PAN). Lalu, saya buka dan mulai membaca isi pesan singkat tersebut.

"Trims, Dinda..Bangkit dan rampas kembali hak-hak kita...!! Merdeka...!!" begitu isi SMS nya. Hmm..Tiba-tiba saja, ada sesuatu yang bermain-main dalam minda saya.

Sebelumnya, saya memang teleh mengirimkan sebuah pesan kepadanya, isinya juga tentang peringatan HUT RI yang ke-63 tahun 2008 ini.

Dan sekitar pukul 06.00 WIB, saya kembali mendapat pesan singkat. Kali ini datang dari sahabat maya saya yang berdomisili di Medan, seorang perempuan tangguh dengan tiga orang anak. Begini bunyi SMS tersebut: "Aku belum merdeka, dari koruptor Indonesia ini..hehe.."

Lantas, apa maksud dari tulisan saya ini? Entahlah...

24/04/08

saatnya berbuat

SELAMAT HARI BUMI

itu saja
sebab aku belum juga berbuat apaapa untuk menjaga bumi
bagaimana dengan kalian?

SALAM LESTARI

15/04/08

(6 April 2008)

Gemuruh Randai Sampai Juga ke Batam...


Tersebutlah kisah tentang kesombongan seorang raja bernama Rajo Sipatokah yang dengan angkuhnya, menghalalkan segala macam cara untuk mencapai keinginannya. Rajo Sipatokah, yang tergila-gila pada Puti Ameh Manah, akhirnya menculik si putri setelah lamarannya di tolak.

Hal ini membuat Sutan Sari Dewa, suami Puti Ameh Manah yang tengah merantau ke negeri Deli, Medan, geram. Selama tiga tahun dia merantau, mencari nafkah demi penghidupan yang lebih baik, namun begitu pulang ke rumah, dia malah mendapat kabar tak sedap dari mertuanya, Mandeh Salamah bahwa istrinya telah dijemput paksa Rajo Sipatokah.

Diawali dengan alunan musik saluang yang memenuhi angkasa malam serta ditingkahi dengan harmonisnya talempong dan rentak gendang, penampilan Randai Rindang Saiyo direspon dengan sangat antusias oleh penonton yang berjubel memnuhi halaman Rumahitam.

Sepuluh penari Randai, dengan memasukkan unsur-unsur silat Minangkabau pada tariannya, bergerak atraktif seirama rentak gendang, talempong dan lengkingan saluang. Adegan cerita dimulai dengan gambaran perpisahan antara Puti Ameh dengan Sutan yang hendak merantau ke negeri Deli. Di sini, lengkingan saluang mengalun menyayat, menghujam hati terdalam Puti Ameh yang berat melepas kepergian suami tercinta.

Ketika Sutan pergi, datanglah Rajo Sipatokah bermaksud menjemput Puti Ameh ke kerajaannya. Puti Ameh bersama-sama dengan Mandeh Salamah bersikeras menolak keinginan Rajo Sipatokah, adu mulut pun tak terhindarkan.

"Lamak di Angku Sorang...Eloklah ambo mati berkalang tanah!" teriak Maya Mahatma Putri, pemeran Puti Ameh menolak rayuan Rajo Sipatokah yang diperankan Surya Adita.

Rajo Sipatokah bersikeras, Mandeh Salamah yang diperankan dengan sangat apik oleh Bunga Nilam Sari berhasil disingkirkan. Puti Ameh pun diboyong ke kerajaan Sipatokah.
Sutan yang diberitahu mertuanya bahwa Puti diculik Rajo tidak tinggal diam. Dengan tekad bulat merebut kembali sang istri, Harki Nurwatama (pemeran Sutan) mendatangi istana Sipatokah. Terjadilah duel antar keduanya. Dan pertarungan pun dimenangi Sutan yang kemudian bersama-sama Puti Ameh, mereka hidup bahagia.

Di sela persuaan Sutan dengan Sipatokah, dua hulubalang Rajo ikut menimpali. Di sinilah penonton dibuat terpingkal-pingkal. Dengan logat khas Minang, dua hulubalang memainkan lakonnya dengan sempurna. Suara cadel hulubalang membuat hidup suasana, sebuah improvipasi yang menarik. Tim Kesenian Randai benar-benar tampil penuh jiwa, dan berhasil menjerat cinta para penonton.

Dalam rangkaian acara, juga tampil Teater Pompong Batam pimpinan Toni Blinsto. Membawakan Naskah "Wong Asu (manusia anjing) yang diadaptasi dari cerpen Djenar Mahesa Ayu, kelompok teater ini mencoba menuangkannya ke atas panggung. Bermain dengan sedikit simbol, 3 aktor muncul bersamaan dengan berselimut kain putih.
Tiga aktor bertingkah selayaknya seekor anjing, "menggerutui" nasibnya, bahwa sekarang ini, manusia sudah nyaris berlaku sama seperti binatang. Hal ini ditegaskan oleh 2 pemain perempuan yang berlaku seperti majikan dari "anjing-anjing" itu. Main tabrak, main embat tak perduli itu bukan miliknya.

Penampilan yang terbilang lumayan. Meski demikian, kelompok ini sepertinya masih harus melakukan banyak pembenahan di sana-sini, khususnya artikulasi pemain jika tidak ingin ditinggalkan penontonnya. Begitu pun bahasa tubuh pemain yang terasa kurang artistik. Keinginan sang sutradara mengangkat isu manusia anjing ini terasa belum tersampaikan dengan maksimal. Durasi pementasan yang terlalu singkat (sekitar 15 menit) tak sanggup menggambarkan naskah Djenar yang liar.

Hadir pula Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh, Zulfikar Sawang yang membacakan satu puisi dan cermin (cerita mini) bertajuk "Mantera". Vokal yang tegas dan artikulasi yang jelas membuat kata-kata yang mengalir dari Zulfikar terasa sedap di dengar.
Dengan suara parau yang sangat berkarakter, Zulfikar Sawang yang tampil sangat parlente malam tadi berhasil menghadirkan nuansa Aceh yang kental. Seperti yang dikatakannya, pasca musibah bencana gempa dan badai tsunami, para sastrawan Aceh seakan "marah" pada alam yang menghacurkan segala sendi kehidupan mereka. Tak heran jika hingga sekarang pun, masih banyak karya-karya seniman NAD yang berkisah tentang perih Aceh.

Tanggal 7 April besok, kegiatan Rumahitam Andalas Art Forum (RAAF) dan Temu Sastrawan Sumatera (TSS) 2008, secara terjadwal resmi berakhir. Tampil sebagai pengisi acara penutupan ini adalah kelompok Pusat Latihan Opera Batak (PLOT) dari Pematangsiantar, Sumatera Utara dan Fiza Dance Company dari Padang, Sumatera Barat. Kemudian tampil pula grup tari Lombok serta kolaborasi kelompok kompang dan rebana se Batam dengan puisi-puisi yang dibacakan segenap panitia penyelenggara.

Selanjutnya, seperti yang diungkapkan Tarmizi, Pimpinan Komunitas Seni Rumahitam, kegiatan Temu Sastrawan Sumatera 2009 akan diagendakan berlangsung di Payakumbuh, Sumatera Barat.

"Teman-teman sastrawan sudah sepakat, memberikan mandat kepada Komunitas Seni Intro untuk menjadi penyelenggara/tuan rumah kegiatan TSS tahun 2009," kata Tarmizi.

12/04/08

(4 April 2008)

Saat Rutinitas Mengepung Hidup Kita


Lama sekali aku tertidur, aku rasa sudah bertahun -tahun. Aku masih ingat, 31 Desember kemarin aku masih sempat terjaga dan terkejut oleh kerumunan manusia. Mereka membakar kembang api dan meniup terompet, dengan gembiranya, manusia sedunia merayakan satu umurnya pada tahun.

Dedi Darmadi, aktor kelompok teater Hitam Putih, berdiri di sisi tempat tidur di tengah panggung. Sebuah jam yang tergambar samar di dinding "kamar", menggerakkan jarumnya, berputar mengikut perjalanan waktu ke waktu. Cahaya menyiram persis ke sentral panggung, tempat si aktor mulai
bermonolog. Tiba-tiba, dia jumpalitan ke lantai yang penuh dengan tepung putih, kontras dengan suasana panggung yang mencekam.

Tak lama, 3 aktor lain (yang menurut Sutradaranya, Yusril, mereka adalah satu yakni tokoh itu sendiri), yang diperankan oleh Hasan, Andi dan Tomi, muncul dari belakang panggung, membawa payung hitam. Di sini, naskah monolog "Tak Ada Sabtu Sampai Minggu, Hanya Siang dan Malam" milik pemenang sayembara penulisan naskah monolog se Indonesia milik Rozaky,
yang dimainkan kelompok Teater Hitam Putih dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Padang Panjang berubah menjadi permainan kata saling sahut menyahut.

Cerita yang bertutur tentang
"memuakkannya" sebuah kehidupan yang penuh rutinitas dibangun secara apik oleh ke empat pemain yang tampil dengan bertelanjang dada. Mereka berteriak lantang, bergantian, menghujat waktu, menghujat hari-hari.

"Tidak usah ada 7 hari, 5 hari atau 2 hari dalam seminggu. Hanya ada siang dan malam..." ujar ke tiga tokoh "pendamping" itu.

"Hari tidak milik anak sekolah, hari tidak milik orang-orang berdasi, hari bukan milik siapapun. Kita harus mengatur waktu bukan waktu mengatur kita..." sambung mereka.

Apa yang ditampilkan teater Hitam Putih ini menurut Yusril, merupakan satu bentuk keprihatinan terhadap betapa manusia sekarang ini sudah terjebak oleh sebuah rutinitas yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi membosankan.

"Manusia sudah salah menafsirkan waktu. Kita bergembira saat ulang tahun ataupun pada tahun baru. Padahal esensinya, saat itu usia kita sudah berkurang, dan kita semakin renta," ujar staf pengajar di STSI Padang Panjang ini.

Sebelum Hitam Putih, tampil sebagai pembuka pada acara malam ke enam
RAAF dan TSS-2008 di Rumahitam adalah Kelompok seni Intro dari Payakumbuh. Mereka naik ke atas panggung dengan mengusung musikalisasi puisi.

Suara Iyut Fitra, penyair muda berbakat asal Payakumbuh terdengar berkarakter, di tengah-tengah iringan musik. Begitu pun dengan Aulia, satu-satunya perempuan di kelompok ini yang dengan suara beningnya mampu menghadirkan suasana berbeda saat melantunkan bait-bait puisi milik Gus tf
Sakai berjudul Keranda.

Sementara, Penyair Hasan Aspahani yang tampil berikutnya, mencoba memberi pelajaran kepada yang hadir malam tadi dengan konsep puisi digitalnya. Meski di kancah kepenyairan saat ini, puisi digital (puisi cyber) mulai memiliki komunitas, setelah munculnya komunitas cybersastra yang
tumbuh dari dunia maya (internet), namun apa yang dibawakan Hasan terkesan "kurang bernyawa".

Wajar, mungkin Hasan lupa, siapa yang tengah menyaksikannya. Malam itu, mayoritas dari ratusan penonton yang hadir adalah terdiri dari kaum ibu-ibu serta masyarakat umum. Lain halnya jika puisi digital miliknya yang bertajuk "Siapkah Kita" itu dimainkan di depan seniman-seniman yang sudah "melek" teknologi.

"Saya memang hanya ingin mengenalkan apa itu puisi digital kepada semua kita yang ada di sini. Puisi digital, memang hanya bisa dinikmati di komputer (laptop)," tukas Hasan.

Pementasan lainnya, sebuah tari "Seligi Tajam Bertimbal" yang dibawakan Grup Leksamana, Pekan Baru. Tarian yang dikoreografero oleh SPN. Iwan Irawan Permadi ini bercerita tentang suasana batin yang diterkam dendam cinta segitiga.

Adalah, Wan Sinari dan Wan Inta, dua bersaudara kakak beradik di sebuah
kerajaan. Wan Sinari sangat mencintai Raja Laksemana, tetapi Raja Laksemana malah meilih Wan Inta untuk dijadikan istrinya (permaisuri). Wan Sinari lalu patah hati dan kemudian timbul rasa dendam.

"Nilai yang tersimpan dari kisah ini, makin tinggi rasa cemburu dalam diri seorang perempuan, makin tinggi pula nilai keperempuanannya," kata Iwan.

11/04/08

(2 april 2008)

Hamsad Rindu Sayur Pakis


"Dimana bisa kutemui sayur pakis di Batam? Aku rindu," ujar lelaki bertubuh ringkih
itu di sela perbincangan denganku di salah satu pondok kayu di Komunitas Rumahitam, Sekupang, Batam.

Hamsad Rangkuti, sastrawan besar Indonesia kelahiran Titi Kuning, Medan 7 Mei 1943
itu melepaskan senyumnya dengan sorot mata menerawang. Katanya, sudah lama dia tak menemukan sayur pakis, salah satu makanan Melayu kesukaannya di samping otak-otak dan ketan kelapa.

Sejak hadir di Batam dalam rangka acara Temu Sastrawan Sumatera 2008, 4 hari lalu, Hamsad mengaku terus berburu makanan Melayu. Bahkan, dia menyempatkan
diri ke Tanjungpinang untuk menikmati otak-otak. Lantas bagaimana perasaan lelaki
yang sudah menghasilkan ratusan cerpen ini selama di Batam khususnya di Sekupang?

"Aku merasa seperti di rumah sendiri. Kumpul bersama anak-anakku, kumpul di
tengah-tengah komunitas seniman yang sudah menjadi bagian dari hidup panjangku. Berada di Rumahitam, membuatku teringat pada masa-masa kecilku di sebuah kampung di Kisaran sana," kata penulis novel Ketika Lampu Berwarna Merah yang termashsyur itu.

Itu pula yang membuat Hamsad menolak untuk menginap di hotel berbintang meskipun panitia sudah menyiapkannya. Sastrawan yang juga telah melahirkan 2 buku cerita anak "Surat dalam Tabung" dan "Kereta Pagi Jam 5" ini memilih menghabiskan waktunya di sebuah kamar "hitam" yang ada di Rumahitam. Pasalnya, hanya di sinilah dia bisa
terbangun dari tidur pagi oleh kicau burung dan kukuruyuk ayam jago.

"Sudah lama aku tak dibangunkan kicau dan kukuruyuk. Di Jakarta, mana bisa, semua
orang takut memelihara burung dan ayam. Takut sama penyakit flu burung," katanya.

Buku-buku kumpulan cerpen Hamsad yang telah terbit adalah Lukisan Perkawinan,
Cemara, Sampah Bulan Desember dan Bibir dalam Pispot. Karya-karyanya hadir memberi warna dunia sastra Indonesia dengan tulisan-tulisan yang bernas dan bahasa yang sederhana namun kuat dan sarat makna, berisi tentang peristiwa kehidupan sosial masyarakat di sekelilingnya.

Pada tahun 1975, Hamsad mendapat undangan dari Pusat Kesenian Jakarta dan Departemen Penerangan untuk mengikuti workshop penulisan skenario film selama 6 bulan. Bila sebelumnya ia hanya mampu menghasilkan 1 karya per tahun, usai mengikuti workshop tersebut, gairah menulis Hamsad kian menjadi hingga bisa berkarya 50 buah cerpen setiap tahunnya.

"Menulislah dengan hati, jiwai profesi kepengarangan, jangan menulis hanya untuk
batu loncatan dalam mencapai suatu keinginan (materi, red). Sebab bila keinginan itu sudah tercapai maka jiwa kepengarangan bisa jadi terkikis hingga akhirnya hilang,"
kata Ayah dari 4 anak yang juga pernah memimpin majalah budaya Horison ini berfilosofi.

Pengagum Mochtar Lubis, Anton Chekov dan Hemmingway ini mengaku, sebelum namanya banyak dikenal orang, dia hanyalah anak manusia yang tak punya apa-apa. Ketika hijrah dari Medan ke Jakarta sekitar tahun 1965, Hamsad juga pernah menjalani kehidupan bohemian, kehidupan yang tak punya arah tujuan, hanya mengikut kemana kaki dan hati melangkah. Tidur di emperan toko dan mesjid, makan pun tak pasti. Namun hal ini tidak mengurangi tekadnya untuk terus menulis.

Salah satu karya awalnya di Jakarta, Panggilan Rasul, dimuat majalah Horison. Dan
cerpen ini berhasil mencuri perhatian para seniman-seniman besar di Jakarta. Dalam perjalanan waktu, Horizon pun menawarinya untuk bekerja di majalah ini. Sejak itu, keberuntungan mulai berpihak kepada Hamsad hingga lahirlah karya-karya besar lainnya. Salah satunya adalah cerpen berkalimat ajaib: "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?"

Pesan Hamsad untuk para seniman dan penulis muda: janganlah kalian cepat berputus asa jika karya-karya yang ditulis tidak dimuat oleh media dan mendapat perhatian seniman lain, tapi janganlah pula lekas berpuas diri kalau karyanya sudah mendapat tempat di dunia sastra Indonesia.

10/04/08

(1 April 2008)

Pesta Para Seniman Dikalahkan Peterpan


Malam kedua pergelaran Rumahitam Andalas Art Forum (RAAF) dan Temu Sastrawan Sumatera (TSS) 2008 sepi dari pengunjung. Harapan panitia akan hadirnya masyarakat Batam sepertinya terhadang oleh konser Peterpan, Nidji dan Marveel yang secara bersamaan manggung di lapangan Temenggung Abdul Jamal, Batam, Selasa (01/3).

Bahkan, seniman-seniman tuan rumah pun tak kelihatan batang hidungnya. Hanya ada Tarmizi (Rumahitam), Taufiqurrahman (Komunitas Perkusi Melayu) dan Toni (Teater Pompong), kesemuanya dari Batam yang notabene adalah panitia, yang tampak di lokasi.

Kendati demikian, sepinya penonton dari khalayak umum, tidak mengurangi greget acara ini. Sekitar pukul 20.00 wib lebih, acara dimulai dengan penampilan kolaborasi Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) Batam dengan M. Ilyas yang membawakan musikalisasi puisi berjudul Surat Rumahitam untuk Aminah karya Tarmizi.

Sebuah puisi yang bercerita tentang keprihatinan terhadap gaya hidup Aminah yang berubah setelah hijrah dari kampung pesisir ke kota yang penuh kerlip lampu namun tanpa jiwa.

"aminah, jangan kau sembunyi di balik seragammu segala seksi, dan minah ganti nama jadi mini," teriak lantang Ilyas.

Selanjutnya, penyair Panji Utama asal Lampung tampil membawakan tiga puisinya, Kabut di Negeri Malin Kundang dan Hanyutlah Sriwijaya serta sebuah sajak pendek "Kenali". Dari puisi, acara beranjak ke ranah cerpen yang dibawakan penuh karakter oleh sastrawan Indonesia dari Medan, Idris Pasaribu.

Seperti yang disampaikan Idris, cerpen bertajuk "Hamsad mencuri Jambu Klutuk" yang dibacakannya merupakan buah imaji dari cerpen karya sastrawan Hamsad Rangkuti berjudul "Aisah di Balik Tirai Jendela" yang telah terbit dalam sebuah kumpulan cerpen Hamsad dan Idris terbitan "Aksara".

"Cerpen ini adalah jawaban dari misteri cerpen Hamsad Rangkuti "Aisah di Balik Tirai Jendela" itu," kata Idris sebelum membacakan cerpennya.

Mengambil setting Kehidupan masyarakat Melayu Deli di kawasan Titi Kuning, Medan. Idris menghadirkan tokoh yang dinamainya Hamsad sebagai seorang anak yang "menggilai" Aisah, puteri Tengku Mahmud, pimpinan grup Tonil Puteri Hijau. Tokoh Hamsad digambarkan sebagai anak yang jago menulis, berpantun dan menyanyi yang kelak, karena faktor kenakalan kanak-kanak, Hamsad keluar dari grup Tonil ini karena ketahuan mencuri jambu klutuk (jambu biji) milik Tengku Mahmud.

Konflik batin yang terbangun pada tokoh Hamsad diceritakan dengan sangat jelas oleh Idris. Hasrat Hamsad terhadap Aisah terbentur tembok dendam pada Tengku Mahmud. Hamsad pun merantau ke Jakarta, berpisah dengan Asiah yang ternyata masih menyimpan hatinya untuk Hamsad.

Di akhir cerpen, terkirim surat dari Lokon, sahabat masa kecil Hamsad yang mengabarkan kalau Aisah sudah meninggal dunia, menyusul suaminya. Hamsad pun menanggung sedih mendalam. Setelah sekian lama tak menghasilkan karya, akhirnya ia mengambil mesin tik tua dan membangun cerita: "Aisah di Balik Jendela"

"Hamsad ketawa aja saat membaca cerpenku ini muncul di media Jakarta sana. Kau cari uang dari imajinasiku, ya. Bagilah honor kau samaku. Gitu katanya," ujar Idris mengulang ucapan Hamsad Rangkuti saat bincang-bincang dengan penulis usai pegelaran.

Nuansa Melayu Deli yang ditebarkan Idris Pasaribu langsung berganti dengan warna Minang ketika Musdar (Mumui) muncul membacakan puisinya "Mangkutak" karya Ayahanda Hamid Jabar.

"Orang tuaku bilang aku dilarang jadi Anak Mangkutak, Aku tak tahu Anak Mangkutak itu anak macam apa... Tapi dalam Kaba-Kaba Orang Minang, Anak Mangkutak itu itu anak durhaka, Sebagai anak Minang mengenal Kaba Si Malinkundang, tentu aku tak hendak jadi anak durhaka," gemeretak suara Mumui memecah panggung.

Salman Yoga, penyair dari Goya, Takengon yang mendapat giliran langsung maju, membawakan puisi "Selembar Daun Kopi" yang dilanjutkan dengan penampilan penyair Pekanbaru, Hang Kafrawi dengan puisi-puisi "Anakku dan Bulan yang Hilang" dan "Selusuh Hati". Penampilan Kafrawi kali ini diiringi denting musik Gambus. Acara RAAF dan TSS 2008 malam kedua ini ditutup oleh sajak yang dibacakan Tarmizi Rumahitam.

Usai jalannya acara, para seniman yang ada kembali berkumpul berbincang-bincang sembari menikmati sajian bandrek serta kopi. Asap rokok terus mengepul, mengepung langit Rumahitam yang kian kelam. Di teras ruang sekretariat kepanitiaan, serombongan panitia bergurau-gurau. Kaos hitam yang dikenakan sedikit menyembunyikan wajah mereka yang muram, kelelahan.

09/04/08

(31 Maret 2008)

Lelaki, Jangan Kau Anggap Remeh Perempuan...


Apa yang terjadi jika kaum perempuan bersatu lalu bersama-sama melakukan mogok untuk tidak melayani kebutuhan lelaki "yang satu" itu?

Hmm..bisa-bisa para lelaki langsung mati kutu. Sebab itu, Walaupun lelaki itu selalu sakti dan segala perbuatannya tak pernah dicaci, jangan lantas menganggap remeh keberadaan kaum perempuan di muka bumi ini. Jangan mentang-mentang perempuan selalu mengalah, lantas mereka dianggap kalah padahal perempuan adalah pemenang.

Kira-kira, begitulah tafsir bebas, pesan yang mungkin ingin disampaikan oleh Suryatati A. Manan dalam puisinya yang berjudul "Lelaki", yang dibacakannya saat tampil di panggung Komunitas Seni Rumahitam, Sekupang, Batam, Senin (31/3).

Penonton pun dibuat tak bisa menahan tawa mendengar bait-bait puisi Suryatati yang nakal lagi menggoda itu. Terlebih ketika Walikota Tanjung Pinang ini meningkahi puisinya dengan kalimat-kalimat gaul yang menyentil ke "sok kuasa" nya kaum lelaki.

Seperti biasa, Tatik, sapaan akrab wanita ini, tampil cukup tenang. Kendati laman panggung malam itu dipenuhi oleh seniman-seniman dari penjuru negeri, dari Nangroe Aceh Darussalam sampai Jakarta yang sengaja hadir ke hajatan besar Rumahitam Andalas Art Forum (RAAF) dan Temu Sastrawan Sumatera (TSS) 2008 yang diagendakan berlangsung dari 31 Maret sampai 7 April mendatang, Tatik berhasil mendapat aplaus meriah dari penonton.

Sebelum Tatik, acara yang dibuka oleh Gubernur Kepulauan Riau, Ismeth Abdullah, diwakili oleh Asisten II, Arifin, telah tampil secara berturut-turut Tarmizi, Tim Perkusi Melayu Yayasan Bina Ummah, Aida Ismeth, Wakil Bupati Bintan (Mastur Taher), Kolaborasi Anak-anak Bina Zakat, Sastrawan Indonesia (Hamsad Rangkuti) serta Sanggar Negeri Antara (NAD) dan Kelompok Pemusik Jalanan (KPJ) serta M. Ilyas (Juara I Lomba Cipta Puisi Dewan Kesenian Batam-2007).

Aida Ismet, anggota DPD asal Kepri yang juga pembina Komunitas Seni Rumahitam membawakan dua puisinya, Indonesiaku Menangis dan Rumpun Melayu. Meski usianya sudah menginjak kepala enam, penampilan Nyonya Gubernur ini masih cukup bertenaga.

Begitu pula dengan Hamsad Rangkuti yang tampil membacakan cerpen "Lagu di Atas Bis. Sebuah konflik menarik yang terjadi di atas perjalanan sebuah bis tentang sebuah pilihan pemutaran lagu kesukaan dari masing-masing penumpang.

Dimulai dari permintaan seorang penumpang agar sang supir sudi memutarkan lagu disko, namun diprotes oleh penumpang lain yang menginginkan supir meutar lagu dangdut. Ini pun mendapat protes dari penikmat lagu keroncong yang kemudian mendapat bantahan lagi dari penyuka gending jawa.

"Pak Supir, bisakah kau putarkan lagu minang-saluang saja, saya tak suka lagu gending jawa."

Tapi permintaan itu pun ditolak oleh penumpang yang menginginkan lagu tapanuli modern. Kemudian datang pula teguran dari seorang "hijau" agar supir segera menyetel lagu mars perjuangan. Mendekati akhir cerita, seorang "hijau" lainnya mendesak agar yang diuptar adalah lagu Indonesia Raya. Namun semua bingung karena di bis tidak ada lagu Indonesia Raya. Namun penumpang tersebut tetap mendesak.

Setelah dicari-cari, lagu kebangsaan Indonesia ini pun ditemukan di sebuah keranjang sampah.

Setelah Hamsad, tampil Sanggar Negeri Antara (NAD) yang membawakan tari "Guwel". Tidak kalah dengan yang lain, seniman-seniman asal Goya, Takengon, Aceh Tengah ini berhasil memukau penonton dengan gerakan-gerakan gemulai 7 penari yang ditata secara apik oleh Ibrahim Kadir, yang sarat makna, tentang bagaimana prosesi penyambutan "tamu besar" ke daerah Goya yang berisi kegembiraan, keramahan masyarakatnya.

Gerakan-gerakan tarian ini melukiskan kehidupan margasatwa yang hidup di belantara rimba Gayo seperti gerak belali Gajah, Elang terbang di angkasa, burung-burung bertengger di cabang kayu, lintah-lintah berenang di sungai, kepak siamang berjuntai di batang pepohonan serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat hutan yang ceria.

Tak hanya itu, tarian ini pun dirangkai dengan didong gadis yang menembangkan lagu-lagu khas daerah Gayo. Melengkapi penampilan seniman asal NAD ini, sebuah puisi bertajuk "Nyeri Aceh" oleh sastrawan, anak muda Gayo, Pikar Weda.

Puisi Nyeri Aceh bercerita tentang penderitaan rakyat Aceh akibat hamtaman badai tsunami tahun 2004 lampau yang telah merenggut lebih dari 500 ribu nyawa serta memporakporandakan bangunan yang didirikan manusia dan alam sekitar. Pembacaan puisi ini diiringi dengan lagu kecintaan dengan tanah kelahiran Gayo yang diciptakan Tuhan dengan senyum serta anugerah.